DARI PRANCIS KE INDONESIA: APA YANG DIRASAKAN NATIVE SPEAKER MENGAJAR DI UNPAD? SIMAK CERITA MENARIK MADAME MAURINE
Oleh Fahrani Aulia Rahmi
Pertemuan dua budaya dalam ruang kelas
Jatinangor 22/08/2025 – Selama 3 bulan terakhir, dimulai dari bulan Maret hingga Juni 2025, program studi Sastra Perancis UNPAD kedatangan tamu istimewa, seorang native speaker asal negara Prancis yang membuat suasana pembelajaran lebih seru dan menarik. Kehadirannya bukan hanya memperkaya pembelajaran bahasa, tetapi juga membuka ruang pertukaran budaya yang mendalam antara Indonesia dan Prancis.
Tidak hanya memberikan pengalaman belajar langsung dari penutur asli, ia juga memperkaya suasana kelas dengan cerita-cerita seputar budaya, kebiasaan, dan kehidupan di Prancis. Para mahasiswa pun merespons dengan antusias. Mereka menjadi lebih percaya diri untuk berbicara, berdiskusi, bahkan bercanda dalam bahasa Perancis.
Kegiatan belajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas, tetapi juga menambah ke aktivitas santai di luar seperti mengobrol di depan gedung kuliah, makan bersama di kantin, atau nongkrong di kafe sekitar kampus. Semua ini menjadi cara baru yang menyenangkan untuk belajar bahasa secara natural. Mari kita simak cerita menariknya!.
Tiga bulan terbaik di UNPAD
Ia sangat menikmati setiap waktu yang dimilikinya selama di UNPAD karena lingkungan kampusnya yang sangat nyaman. Menurutnya, meskipun lokasinya cukup jauh dari pusat Kota Bandung tetapi suasana disini terasa sangat tenang dan menyegarkan. Di sekeliling kampus, terdapat banyak pepohonan dan ruang terbuka hijau. Hal lain yang membuatnya merasa lebih mudah adalah karena ia tinggal dengan Ibu Nany selama di Jatinangor. Beliau adalah orang yang pertama kali mengenalkan ia pada UNPAD, sekaligus membantunya memahami lebih dalam tentang universitas dan lingkungan sekitarnya. Berkat bantuan beliau, proses adaptasi ia berjalan dengan lancar dan akses ke kampus pun sangat mudah.
Ia sangat menyukai tiga bulan yang dihabiskan selama disini. Ia mengatakan selama mengajar di UNPAD merupakan pengalaman yang sangat berharga, baik secara pribadi maupun akademik.
Salah satu program utama yang disampaikan adalah Dialog Antaragama. Program ini menyatukan pemimpin agama dari berbagai negara dan menghasilkan inisiatif seperti beasiswa dan forum lintas agama. Di samping itu, Kemenlu menjelaskan program Indonesia Gastrodiplomacy Series. Program ini menggunakan diplomasi kuliner sebagai sarana promosi. Tujuannya adalah mengenalkan keanekaragaman makanan Indonesia ke masyarakat internasional.
Kesan pertama bertemu mahasiswa Sasper UNPAD
Pada awalnya Ia merasa suasana saat di kelas terasa canggung karena Ia dan mahasiswa masih saling menyesuaikan diri. Ia mengaku bahwa ini adalah pengalaman pertamanya mengajar langsung di depan mahasiswa, sementara bagi para mahasiswa sendiri, kehadiran penutur asli sebagai dosen tentu menjadi hal yang baru dan cukup mengejutkan.
Namun seiring waktu, situasi tersebut berubah menjadi lebih akrab dan santai. Ia justru merasa terkejut sekaligus kagum melihat betapa supelnya para mahasiswa. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi untuk berpartisipasi, berbicara, dan berusaha aktif di kelas. Ia juga merasa senang karena kegiatan pembelajaran tak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga berlanjut di luar kelas seperti ngobrol santai di depan gedung, makan bersama di Shokudo, atau sekedar duduk di kafe kampus.
Awalnya, Ia mengaku sempat membawa beberapa stereotype, tetapi pengalaman langsung bersama mahasiswa UNPAD mengubah pandangannya. Ia merasa sangat dihargai dan diterima, serta semakin yakin bahwa ia bisa melakukan banyak hal karena mahasiswa benar-benar ingin terlibat dan membangun komunikasi dengannya. Pengalaman ini pun menjadi sesuatu yang sangat positif dan bermakna baginya.
Perbedaab sistem mengajar di Prancis dan di Indonesia?
Ia merasa perbedaan utama adalah sistem masuk perguruan tinggi antara kedua negara tersebut. Di Prancis, tidak ada ujian masuk untuk masuk Universitas dan pendidikan tinggi relatif mudah diakses serta hampir gratis. Hal ini membuat banyak orang mencoba berbagai jurusan yang mereka minati, bahkan kerap berpindah jurusan setelah semester pertama.
Ia membandingkan pengalamannya saat kuliah di universitas kecil di Prancis bukan di kota besar namun jumlah mahasiswa tahun pertama tetap mencapai 200 orang. Jumlah tersebut sangat kontras dengan yang ia temui di UNPAD, di mana mahasiswa cenderung lebih sedikit. Meski begitu, ia mencatat satu hal menarik di Indonesia, terutama di UNPAD, hubungan antara dosen dan mahasiswa terasa jauh lebih dekat dan hangat.
Menurutnya, sistem di Prancis memungkinkan siapa saja untuk masuk, tetapi banyak juga yang tidak melanjutkan. Sementara di Indonesia, jumlah mahasiswa yang diterima lebih terbatas, namun mereka menunjukkan komitmen tinggi terhadap studi dan menjalin hubungan yang baik dengan para pengajarnya.
Project yang sudah dilakukan selama 3 bulan?
Ia mengaku project untuk tesis utamanya berfokus di IFI, tetapi proyek utama ia adalah membantu mahasiswa untuk berani berbicara dengan penutur asli untuk meningkatkan aksen, intonasi, pengucapan. Ia juga berkontribusi dalam aspek budaya, seperti saat mengajar cinema Prancis pada mahasiswa semester 6. Ia tidak hanya membahas Prancis, tetapi juga memperkenalkan budaya dari wilayah lain yang berbahasa Perancis seperti Belgia dan Quebec. Kehadirannya sangat membantu dosen untuk memberikan gambaran budaya secara detail. Ia mengaku bahwa mahasiswa sangat aktif bertanya mengenai budaya dan hal lainnya. Setiap kali di kelas ada hal yang berkaitan dengan budaya, mereka akan, “Kalau di Prancis bagaimana?” dan ia akan menjelaskannya. Jadi ia merasa memang inilah tujuan dari kehadirannya disini.
Pendapat Maurine dengan kehadiran native speaker dalam belajar Bahasa Perancis
Menurutnya Ia tidak bisa bilang pasti karena Ia bukan orang yang belajar Bahasa Perancis tetapi mengenai semua dampak budaya dan pelafalan yang sudah diceritakan sebelumnya karena Ia akan sangat detail mengenai hal tersebut yang tentunya bisa berbagi dengan mahasiswa. Serta mungkin juga soal cara berbicara yang alami seperti punya ritme yang bagus dan cara bicara yang lebih natural. Karena di Indonesia, orang asing tidak boleh mengajar tanpa kehadiran guru Indonesia. Mereka (guru lokal) juga punya kemampuan bahasa Prancis yang bagus, tapi pelafalannya berbeda karena mereka tidak tinggal di Prancis, jadi mereka tidak punya “rasa” seperti penutur asli. Aku pikir inilah hal yang bisa diberikan oleh-nya, seorang penutur asli.
Tantangan terbesar selama mengajar & Pengalaman Menarik yang Membuatmu Terpesona Di Indonesia?
Menurutnya engenai organisasi, di Prancis ia belum pernah mengajar di Universitas tapi disini semuanya lebih bersifat dadakan. Kadang tiba-tiba ada dosen yang tidak bisa mengajar, lalu mereka memintanya untuk menggantikan dan disaat itu juga ia belum menyiapkan apapun. Jadi ia merasa semuanya terasa lebih mendadak. Namun, pengalaman ini mengajarkannya bagaimana beradaptasi dan mencari solusi dengan cepat. Juga, kedekatan antara dosen dan mahasiswa terasa lebih dekat disini.
Mengenai pengalaman yang membuatnya menarik adalah, ia menyebutkan banyak sekali. Namun, ia menyimpulkan dalam 3 hal teratas. Yang ketiga adalah soal gaya hidup. Ini sangat berbeda, karena di sini kalian bangun sekitar jam 4 atau 5 pagi, dan itu bukan sesuatu yang terjadi di Prancis. Kalian juga makan cukup awal. Jadi, ini bukan hal yang mengejutkan, tapi merupakan perbedaan besar yang harus ia adaptasi. Yang kedua adalah makanan. Sangat berbeda, dan awalnya ia merasa negatif hanya di awal saja karena saat aku tiba, aku sakit selama sebulan penuh karena keracunan makanan. Ini pertama kalinya ia merasakan cita rasa yang begitu kuat. Tapi setelah tubuhnya beradaptasi, itu seperti jalan tol menuju surga, karena makanan disini enak sekali. Serta yang pertama adalah pola pikir orang-orangnya. Mungkin karena disini banyak orang yang beragama Islam, dan dalam Islam ada ajaran untuk saling membantu, hidup dalam kebersamaan, dan hal-hal seperti itu. Setiap kali ia punya masalah atau pertanyaan, orang-orang selalu berkata, “Aku akan bantu kamu, aku akan tunjukkan caranya.” Karena di Prancis, orang cenderung lebih egois, lebih individualis. Dan ia pikir ini berkat agama. Nilai-nilai seperti ini bukan bagian dari akar budaya kami, tapi lebih berasal dari budaya masyarakatnya. Jadi menurut ia ini sangat dalam, seperti tertanam dalam budaya kalian.
Harapan Untuk Meningkatkan Kolaborasi Antara UNPAD & IFI DI Masa Depan?
Ia mengatakan bahwasannya sangat berharap akan ada program magang atau pertukaran pelajar lagi di masa depan, karena menurutnya itu sangat menarik. Biaya kuliah memang mahal namun hal itu menunjukkan bahwa kalian benar-benar punya semangat dan rasa ingin tahu terhadap budaya Prancis. Jadi, kalian sangat pantas untuk bisa datang ke Prancis dan mengenal budayanya secara langsung.
Kalau ia punya kesempatan untuk datang kesini dan mengenal budaya kalian, maka kalian juga seharusnya punya kesempatan yang sama untuk datang ke Prancis dan merasakan sendiri budayanya. Ia rasa itu akan menjadi hal yang luar biasa. Mungkin ini bisa menjadi proyek selanjutnya. Ia benar-benar berpikir bahwa akan sangat hebat jika mahasiswa mempunyai kesempatan yang setara.
Kehadiran native speaker asal Prancis selama tiga bulan terakhir di Program Studi Sastra Perancis UNPAD bukan hanya memberikan warna baru dalam proses pembelajaran, tetapi juga memperkuat jembatan budaya antara Indonesia dan Prancis. Pengalaman yang dibagikan, kedekatan yang terjalin, serta semangat kolaboratif yang muncul menjadi bukti bahwa pertukaran budaya memiliki dampak yang sangat nyata dan positif. Semoga kerja sama seperti ini terus berlanjut dan berkemban, membuka lebih banyak peluang belajar dan bertumbuh bagi kedua belah pihak di masa depan.
