Berhadapan Dengan Culture Shock Budaya dan Lingkungan Baru di Kota ”La Ville Blanche” La Rochelle

Berhadapan Dengan Culture Shock Budaya dan Lingkungan Baru di Kota "La Ville Blanche" La Rochelle

Oleh Jose Maulana Sandrya

       Prancis sudah sedari dulu menjadi negara idaman bagi banyak orang, entah karena ingin berlibur sejenak disana, ataupun tinggal dalam waktu yang lama. Tidak sedikit pula orang Indonesia yang ingin pergi untuk menimba ilmu di negara pusat mode dunia ini. Di Sastra Perancis UNPAD contohnya, jika bertanya pada setiap mahasiswa apa impian mereka?, pasti banyak dari mereka yang menjawab ingin tinggal atau melanjutkan studi master di Prancis!. Oleh karena itu Program Studi Sastra Perancis UNPAD memberikan kesempatan kepada seluruh mahasiswanya, melewati kerja sama dengan berbagai Universitas di Prancis. Salah satu universitas yang memilik hubungan paling erat dengan Universitas Padjadjaran adalah Université de la Rochelle.

        Université de La Rochelle, yang didirikan pada tahun 1993, terletak di La Rochelle, Prancis. Universitas ini aktif dalam penelitian, khususnya di bidang ilmu lingkungan, ilmu laut, dan teknologi baru. Selain itu, Université de La Rochelle menawarkan program pertukaran mahasiswa dan kerjasama internasional, memberikan peluang bagi mahasiswa untuk belajar di luar negeri dan mendapatkan pengalaman global. Pada tahun 2024, sebanyak 5 orang mahasiswa Sastra Perancis UNPAD berkesempatan untuk mengikuti pertukaran pelajar ke Universitas ini. Program pertukaran mahasiswa ini merupakan program rutin yang terus dilaksanakan setiap tahunnya, yang berlangsung selama 6 bulan atau 1 semester.

Selama 2 bulan berjalan 5 orang mahasiswa yang mengikuti program ini bercerita bahwa mereka sudah melakukan banyak hal dan memiliki banyak pengalaman baru. Mereka bercerita tentang pengalaman baru mereka selama satu bulan tinggal dan berkuliah di Prancis, ”Yang paling menarik itu ketemu banyak orang-orang baru, dan disini tuh banyak banget acara, banyak banget info tentang pesta tiap minggunya, pasti ada aja acara entah perayaan atau acara kumpul-kumpul bareng aja” ujar mereka.

Selain itu mereka juga mengikuti kegiatan orientasi sebelum melaksanakan perkuliahan, mereka berkata kegiatan orientasi di Universitas Prancis sangat berbeda dengan di Indonesia ”Ospek nya lebih mengenal each other gitu, jadi menyenangkan”. Namun dibalik semua itu, mereka tetap saja mengalamin perbedaan budaya atau culture shock ketika awal perkuliahan mereka mulai berjalan. ”Satu mata kuliah berjalan selama tiga jam, kalo di Indonesia satu mata kuliah cuman 40 menit, kelasnya intensif banget bahkan ada kelas sampe jam 8 malem, mulainya juga dari jam 8 pagi”. Tapi mereka juga berkata jika di hari kamis, semua kelas di tiadakan, dan hari kamis merupakan hari mahasiswa, dimana mereka libur dan dapat melakukan apapun yang mereka inginkan. Hal lain yang mereka rasakan adalah ketepatan waktu orang perancis dalam berkuliah ”orang-orang prancis itu rajin dan tepat waktu, kelas juga ga pernah telat, kalau misal jam kelas telat selesai ga pada waktunya, mahasiswanya pada walk out, dan di kelas juga berisi full materi jadi gak bisa ngobrol dan harus menyimak materinya.”

Dalam perkuliahan, selama 6 bulan mereka belajar beberapa mata kuliah, diantaranya adalah bahasa prancis, bahasa indonesia, bisnis, dan budaya. Di kelas bahasa prancis mereka dapat belajar langsung dari penutur asli bahasanya atau native speaker orang Prancis. Sementara itu pada kelas bahasa indonesia, merekalah yang meengajarkan bahasa indonesia kepada mahasiswa prancis. Mereka juga mengatakan bahwa pembelajaran bahasa prancis di Sastra Perancis UNPAD cukup membantu, namun tetap saja karena mereka berhadapan dengan penutur asli, menjadikan mereka cukup kesulitan karena accent dan juga banyaknya penggunaan slang. Namun fakta unik yang mereka temukan adalah banyak dari penutur asli orang Prancis yang masih kurang paham dengan pengelompokan article masculin atau feminin. ”Ada beberapa kesalahan di feminin dan masculin nya bahkan native speaker pun kadang masih kurang tahu. Agak tricky aja”.

Mereka juga bercerita, di Université de la Rochelle pembelajarannya tidak menggunakan buku seperti cosmopolité atau lainnya, namun disini sangat tematik setiap minggunya dan langsung materi dari dosen pengajarnya. Dan juga mereka bilang bahwa dosennya juga tidak killer, jika mereka salah mereka dibenarkan dan dibantu, baik oleh dosennya ataupun native speaker nya. 

Mereka berpesan untuk semua mahasiswa Sastra Perancis UNPAD yang ingin mengikuti program ini untuk terus belajar dengan giat, dan serius dalam setiap persiapannya, juga mereka mengingatkan untuk segeralah mengejar ujian DELF dengan minimal level B2. ”Persiapkan DELF karna penting banget, mental, karena disini kita gak boleh malu buat ngomong, kita juga harus percaya diri buat ngomong, apalagi kalau buat ngurusin asrama disini kalian harus ngomong sama resepsionis yang gak bisa bahasa inggris”. Selain itu mereka juga bilang bahwa kesempatan sangat terbuka untuk mahasiswa Sastra Perancis UNPAD ”Harus siap mental, fisik karna bakal capek banget, dan kalian kalau mau just do it aja, kalau bahasa prancis kalian gak bagus juga gak perlu khawatir karna disini juga kita belajar bareng bareng. Apalagi yang udah semestrer lima, this is your last chance!, dan kalau menurut aku kita sarjana cuma sekali, jadi kesempatan yang ada gak mungkin ada lagi, kalau pun ada pasti beda rasanya, jadi lakuin aja selama memang punya kesempatan dan ada rezekinya”.